Survei LSPI: Mularis Djahri Paling Pantas Jadi Walikota Palembang

0
284

RMOL. Lembaga Suvei Politik Indonesia (LSPI) merilis hasil survei terbaru Pilkada Kota Palembang 2018, yang digelar April-Mei 2017 lalu. Survei menghasilkan kesimpulan tiga kandidat dipandang pantas memimpin Kota Palembang.

Koordinator Riset LSPI Indonesia Barat, Muchtar S Syihab menyatakan lembaganya memantau perkembangan persepsi pemilih Kota Palembang dan mengukur peta dukungan secara berkala.

Dijelaskan, sepanjang belum ada calon resmi yang disahkan KPU Kota Palembang, cara terbaik mengukur calon kandidat terkuat adalah dengan menguji apakah publik mengenalnya, menyukainya, menerimanya dan bagaimana mereka menilainya.

Survei akan menjadi semacam fit and proper test untuk ungkap pendapat responden soal para bakal calon.

Dalam survei terkini yang digelar lembaganya, Muchtar mengatakan responden menilai Pilkada Kota Palembang 2018 tidak akan begitu mencolok karena para kandidat yang sudah melakukan sosialisasi masih wajah-wajah ama. Walaupun kata dia ada kejutan dengan munculnya figur baru seperti Lury Alex Noerdin, namun responden menilainya wajar.

“Lury dianggap kelanjutan trah Alex Noerdin, jadi sama sekali bukan figur baru, namun demikian responden berpendapat Lury pantas saja jadi pemimpin mereka namun untuk periode sekarang ini lebih pas jika jadi wakil walikota,” ujarnya kepada redaksi, Selasa (13/6).

Dari pertanyaan terbuka soal siapa yang dianggap paling pantas menjadi Walikota Palembang jika Pilkada dilakukan hari ini, kandidat Mularis Djahri justru memproleh suara tertinggi dengan perlehan 20,99 persen. Mularis Djuhri adalah Ketua DPD Partai Hanura Sumsel.

Menyusul di bawahnya, Sari Muda 18,26 persen, Harno 15,44 persen, sisanya terbagi pada beberapa nama lain.

“Hasil survei dengan pertanyaan pemimpin paling pantas adalah Mularis Djuhri yang jadi walikota,” ungkapnya.

Masih berdasarkan survei, publik di Palembang juga tidak mau memilih pemimpin yang korup, sudah tua, lemah, tidak tegas, berada di bawah bayang-bayang kekuasaan pihak lain, berpenampilan tidak menarik dan tidak memiliki cukup sumber daya untuk bergerak.

Muchtar menambahkan, ada tren baru dalam Pilkada serentak yang sudah digelar di beberapa daerah khususnya tahun 2017. Salah satunya yaitu banyak calon petahana dan calon yang dominan justru tumbang di medan perang.

“Itu terjadi karena terlalu menonjolkan aspek elektabilitas sedari awal, padahal elektabilitas itu dinamis bergantung pada peristiwa dan kerja kampanye yang menyertainya. Artinya adalah, jangan pernah berpikir sekali diukur melalui survei elektabilitasnya tinggi, apalagi masih dalam arsir margin of error, kemudian merasa akan menang, banyak calon tumbang karena terbuai hasil survei model begitu,” tegas Muchtar.

Survei dilakukan dengan jumlah responden sebanyak 800 orang dan margin of error sebesar 3,46 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sumber:  RMOL.co

Tinggalkan Komentar