Survey LSPI : Elektabilitas Ahok Terus Anjlok dan Makin Tergerus Pesaingnya

0
155

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Acep Nazmudin

WARTA KOTA, SENAYAN — Sejumlah kebijakan Basuki Tjahaja Purnama dengan perkataan-perkataan makian dan umpatan kepada banyak pihak, yang terekspos langsung di media massa ditambah dengan kebijakan penggusuran paling brutal yang dilakukannya dinilai sebagai faktor semakin tidak menariknay figur ini di mata pemilih.

Ketidakkonsistenan dia untuk maju dari jalur perseorangan yang didukung sejuta KTP dan memilih diusung trio partai politik seperti Partai Golkar, Partai Nasdem, dan Partai hanura dinilai sebagai faktor yang menjadikan dia semakin tidak menarik di mata para pemilih di DKI Jakarta.

Situasi itu bisa dibuktikan dengan sejumlah survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei, yang mendapati suara Ahok semakin merosot tajam.

Jelang Pemilukada DKI Jakarta Februari 2017 mendatang, elektabilitas Calon Gubernur Petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menunjukan tren penurunan.

Sementara para penantang menunjukan kecenderungan meningkat.

Survey yang dilakukan oleh Lembaga Survey Politik Indonesia (LSPI) terhadap 440 responden pada akhir Agustus 2016 lalu, diketahui jika Ahok dipilih oleh 35%, disusul Yusril Ihza Mahendra sebesar 30,4%, Tri Rismaharani 11,2%, dan Sandiaga Uno 5,8% sementara angka yang belum memutuskan sebesar 17,6%.

“Memang Ahok masih menduduki peringkat tertinggi, namun jumlah persentase menurun dibanding survei yang kami lakukan sebelumnya,” kata Direktur Riset LSPI Julpan Haris melalui keterangan persnya, Minggu (4/9/2016).

Menurut Julpan pada survey LSPI sebelumnya dengan simulasi 4 nama, Ahok mendapatkan 36,2%, Yusril 28,6%, Risma 9,4%, dan Sandiaga Uno 3,1%.

Demikian pula pada data top of mind, Ahok cenderung terus turun, sementara penantangnya cenderung naik.

Julpan memaparkan, ada beberapa alasan mengapa terjadi penurunan suara untuk Ahok berdasarkan pengakuan responden antara lain banyaknya persoalan di DKI Jakarta yang dianggap tidak mampu diselesaikan.

“Selain juga karena banyaknya kontroversi personality Ahok yang berkembang di media dan media sosial,” kata dia.

Kecenderungan penurunan ini paralel dengan angka ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja Ahok dalam persoalan pelayanan publik terutama persoalan kemacetan yang dianggap responden justru semakin meningkat.

“Isu lainnya yang dianggap memiliki sentimen negatif terhadap Ahok adalah isu korupsi yang melibatkan Ahok seperti reklamasi, Sumber Waras dan lahan Rusun Cengkareng‎,” lanjut dia.

Sementara di sisi lain, kata Julpan, beberapa calon lawan Ahok yang dianggap potensial, mengalami fluktuasi elektoral secara beragam.

Yusril Ihza Mahendra mengalami kenaikan meski tidak signifikan.

Demikian juga dengan Sandiaga Uno yang sudah disusung oleh Gerindra.

Nama Risma yang paling banyak dianggap sebagai lawan potensial Ahok juga tidak mengalami kenaikan signifikan.

“Khusus soal Risma, responden beralasan ketidakpastian PDIP dalam menyalonkan Risma,” papar Julpan.

Dalam survey ini juga disimulasikan pasangan calon yang diperkirakan akan menjadi pasangan calon gubernur.

Kata Jullan, Jika Ahok bersama Djarot berhadapan-hadapan dengan Yusril Ihza-Sandiaga Uno, selisih perolehan keduanya terpaut hanya 11 %, Ahok-Djarot 48,8% dan Yusril-Sandi 37,3% dengan angka yang belum memutuskan sebesar 13,9%.

“Jadi, survey LSPI juga menunjukkan potensi pasangan Yusril Ihza Mahendra-Sandiaga Uno jika mereka berpasangan dapat mengejar calon incumbent jika berpasangan dengan Djarot,” kata dia.

Sementara ‎jika pilkada terdiri dari tiga pasangan, maka maka potensi untuk terjadinya dua putaran sangat tinggi dan Ahok berpeluang untuk dikalahkan oleh lawan politiknya.

Survey LSPI dilakukan pada tanggal 22-28 Agustus 2016 dengan metode multistage random sampling dengan jumlah sampel 440 responden, dengan margin of error sebesar 4.8% pada tingat kepercayaan 95%.

Penggalian data dilakukan dengan wawancara tatap muka langsung oleh tim surveyor yang terlatih.‎

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
http://wartakota.tribunnews.com/2016/09/04/survey-lspi-elektabilitas-ahok-terus-anjlok-dan-makin-tergerus-pesaingnya

Tinggalkan Komentar